Selasa, 22 April 2008

"Pasien"-nya Djenar Maesa Ayu

FEMINISME DALAM CERPEN PASIEN

KARYA DJENAR MAESA AYU

A. LATAR BELAKANG

Karya sastra yang baik adalah karya sastra yang mampu menguraikan beragam pengalaman manusia baik dalam dimensi perorangan, maupun dimensi sosial (Suwondo dalam Kurniawan, 2006: 1). Lebih lanjut Darma dalam Kurniawan (2006: 1) mengatakan bahwa karya sastra yang pantas menjadi objek studi sastra adalah karya yang baik, dalam arti bahwa karya tersebut inspiratif, sublim, menyodorkan pemikiran, membuka kesadaran, menambah wawasan dan mempunyai daya gugah yang tinggi.

Karya sastra hadir untuk menampilkan fenomena kehidupan termasuk ketimpangan sosial, dan berbagai permasalahan kehidupan yang lain. Dunia wanita yang termasuk di dalamnya, mereaksi peristiwa-peristiwa luar dengan wujud yang lebih leluasa. Sehingga gambaran diri wanita, pemikiran, perilaku, dan perasaannya dapat tersirat melalui karya sastra.

Asumsi-asumsi yang berkaitan dengan wanita selalu menarik dalam kerangka kebudayaan kontemporer, karena kebangkitannya berkaitan dengan masalah-masalah kemasyarakatan, sejak kehadirannya di rumah tangga hingga ke masalah sosiokultural secara keseluruhan (Ratna, 2004: 189). Dunia wanita memang menarik untuk diangkat dalam karya sastra. Banyak pengarang yang mengangkat tema tentang wanita, karena dunia wanita memang menarik untuk dibicarakan. Wanita adalah sosok yang mengandung dua sisi. Di satu sisi, wanita adalah keindahan. Pesonanya dapat membuat kaum laki-laki takluk dan tergila-gila. Namun di sisi lain, wanita juga dianggap lemah. Kelemahan ini cenderung dijadikan alasan oleh lelaki untuk mengeksploitasi wanita.

Perempuan sering dianggap lebih rendah derajatnya dari kaum lelaki. Sikapnya yang lebih pasif, lemah lembut, dan sebagainya seringdianalogikan bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. Dalam masyarakat kita, keberadaan pelacur lebih ditentang dan dianggap sampah masyarakat bila dibanding dengan keberadaan para gigolo, padahal mereka adalah komunitas yang sama-sama melacur (murahan). Hal tersebut mengisyaratkan bahwa perempuan berderajat lebih rendah dibanding laki-laki. Serta eksistensi perempuan lebih banyak didominasi oleh kekuatan budaya, adat istiadat, dan aturan-aturan yang berlaku.

Perempuan dalam budaya patriarkhi menempati posisi inferior, sedangkan laki-laki di tempat superior. Perempuan lebih umum dianggap sebagai objek dibandingkan sebagai subjek. Dalam karya sastra, bentuk diskriminasi perempuan dapat berupa pornografi dan kekerasan terhadap perempuan.

Cerita pendek berjudul Pasien karya Djenar Maesa Ayu merupakan salah satu cerpen bertemakan perempuan. Di sini digambarkan perempuan sebagai sosok yang lemah, sekaligus perempuan sebagai subjek yang mengendalikan laki-laki melalui kebiasaan tokoh yang suka berganti-ganti teman tidur sebagai bentuk pelampiasan amarah. Perempuan dalam cerpen ini diperankan oleh tokoh Saya dan Ia, yang pada akhir cerita digambarkan bahwa mereka berdua pada dasarnya adalah satu orang yang sama. Awalnya, tampak seakan-akan dalam cerpen ini terdapat dua tokoh perempuan, akan tetapi ternyata hanya satu orang yang sedang bercermin, yaitu tokoh Saya yang menceritakan tokoh Ia kepada pembaca dengan memandang cermin yang memantulkan bayangan tokoh Saya.

Cerpen ini mengisahkan tentang seorang psikiater yang memiliki masa lalu yang buruk akibat pemerkosaan terhadap dirinya. Sang pemerkosa dapat secara bebas berkeliaran dan menikmati udara segar tanpa beban dan rasa bersalah. Sedangkan korbannya yang tak lain dalah dirinya sendiri (yaitu tokoh Saya atau Ia) harus menanggung beban atas kejadian traumatis yang menimpanya selama seumur hidup.

Tokoh perempuan dalam cerpen Pasien ini sudah memiliki ide-ide feminis. Hal tersebut didukung oleh sang pengarang yang juga tokoh feminis, yang melalui karya-karyanya selalu memunculkan sosok perempuan sebagai penggerak, perempuan sebagai subjek yang pantas disetarakan kedudukannya dengan laki-laki. Tokoh Saya atau Ia mempertanyakan tentang paradigma di masyarakat, korban pemerkosaan yang umumnya adalah perempuan, akan selamanya menjadi korban dan dijdikan bulan-bulanan oleh masyarakat. Namun mengapa sang pemerkosa yang notabenenya adalah seseorang yang bermoral bejat, serta pada umumnya pemerkosa adalah seorang laki-laki, dapat menikmati udara segar dengan nyaman (?). Melalui ide-ide feminis yang diusung dalam cerpen ini, penulis ingin mengkaji bagaimana konflik yang dihadapi oleh tokoh perempuan dalam cerpen ini, dan bagaimana mereka menyikapinya, sehingga cerpen ini menarik untuk dikaji.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dikemukakan di depan, dapat disimpulkan rumusan masalah yaitu.

1. Bagaimana unsur feminisme dalam cerpen Pasien karya Djenar Maesa Ayu?

C. TEORI FEMINISME

Seperti diketahui, sejak berabad-abad, perempuan berada di bawah dominasi laki-laki, perempuan sebagai pelengkap, perempuan sebagai makhluk kelas dua. Secara biologis jelas perempuan berbeda dengan kaum laki-laki, perempuan lebih lemah, sebaliknya, laki-laki lebih kuat. Meskipun demikian, perbedaan biologis mestinya tidak dengan sendirinya, tidak secara alamiah membedakan posisi dan kondisinya dalam masyarakat (Ratna, 2004: 187).

Feminis, khususnya masalah-masalah mengenai wanita, pada umumnya dikaitkan dengan emansipasi, gerakan kaum perempuan untuk menuntut persamaan hak dengan kaum laki-laki, baik dalam bidang politik dan ekonomi, maupun gerakan sosial budaya pada umumnya. Kondisi-kondisi fisik wanita yang lebih lemah secara alamiah hendaknya tidak digunakan sebagai alasan untuk menempatkan kaum wanita dalam posisinya yang lebih rendah.

Dalam Ratna (2004: 191) mengatakan bahwa pekerjaan wanita selalu dikaitkan dengan memelihara, pria selalu dikaitkan dengan bekerja. Pria memiliki kekuatan untuk menaklukkan, mengadakan ekspansi, dan bersifat agresif. Perbedaan fisik yang diterima sejak lahir kemudian diperkuat dengan hegemoni struktur kebudayaan, adat istiadat, tradisi, pendidikan, dan sebagainya. Sehingga memunculkan feminisme yang menuntut kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Dalam Ratna (2004: 188) menyatakan bahwa kaum perempuan tidak menuntut persamaan biologis, sebab perbedaan tersebut merupakan hakikat. Kaum perempuan melalui gerakan dan teori feminis menuntut agar kesadaran kultural yang selalu memarginalkan perempuan dapat diubah sehingga keseimbangan yang terjadi adalah keseimbangan yang dinamis.

Menurut Showalter dalam Widayati (2004: 7) dalam ilmu sastra, feminisme ini berhubungan dengan konsep kritik sastra feminis, yaitu studi sastra yang mengarahkan fokus analisis kepada wanita. Jika selama ini dianggap yang mewakili pembaca dan pencipta dalam sastra Barat ialah laki-laki, maka kritik sastra feminis menunjukkan bahwa pembaca wanita membawa persepsi dan harapan ke dalam pengalaman sastranya.

Djajanegara dalam Widayati (2004: 8) mengatakan bahwa para pengkritik sastra feminis beranggapan bahwa pengkritik dan pembaca laki-laki tidak mempu menafsirkan dan menilai dengan tepat tulisan wanita, terutama karena mereka pada umumnya tidak mengenal tulisan-tulisan wanita.

Dengan didasarkan pada realita di atas, hal tersebut memicu munculnya beberapa ragam kritik sastra. Kritik sastra feminis-ideologis ini merupakan cara menafsirkan suatu teks, yaitu satu di antara banyak cara yang dapat diterapkan untuk teks yang rumit sekalipun. Cara ini bukan saja memperkaya wawasan para wanita pembaca, tetapi juga membebaskan cara berpikir mereka (Djajanegara dalam Widayati, 2004: 8).

Kritik sastra feminis-ginokritik mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar, seperti apakah penulis-penulis wanita merupakan kelompok khusus, dan apa perbedaan antara tulisan wanita dan tulisan laki-laki (Dajajanegara dalam Widayati, 2004: 8).

Kritik sastra feminis-sosialis atau kritik sastra feminis-Marxis meneliti tokoh-tokoh wanita dari sudut pandang sosialis, yaitu kelas-kelas masyarakat. Pengkritik feminis ini mencoba mengungkapkan bahwa kaum wanita merupakan kelas masyarakat yang tertindas (Dajajanegara dalam Widayati, 2004: 8).

Kritik sastra feminis-psikoanalisis cenderung diterapkan pada tulisan-tulisan wanita yang menampilkan tokoh-tokoh wanita, karena para feminis percaya bahwa pembaca wanita biasanya mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh wanita yang dibacanya (Djajanegara dalam Widayati, 2004: 8-9).

Kritik sastra feminis-ras atau kritik sastra feminis-etnik ingin membuktikan kebenaran sekelompok penulis feminis etnik beserta karya-karyanya (Djajanegara dalam Widayati, 2004: 9).

Dari keenam ragam kritik sastra feminis tersebut, penulis merasa tepat jika menggunakan ragam kritik sastra feminis-sosialis atau kritik sastra feminis-Marxis sebagai acuan dalam menganalisis. Sebab kritik sastra tersebut merupakan ragam yang mengungkapkan bahwa kaum wanita merupakan kelas masyarakat yang tertindas.

D. ANALISIS CERPEN

“Feminisme Dalam Cerpen Pasien Karya Djenar Maesa Ayu”

Cerpen Pasien yang ditulis oleh Djenar Maesa Ayu menceritakan tentang feminisme tokoh Saya. Penceritaan tokoh Saya menjadi kuat karena ia ditempatkan sebagai subjek yang bercerita. Cerpen ini merupakan cerita tentang wanita oleh wanita. Konflik dalam cerita ini berada di akhir. Sebab di akhir ceritalah, kebenaran yang sekaligus menjadi puncak cerita yang menarik bagi pembaca dimunculkan. Sehingga akan selalu berkesan di hati pembaca bahwa sang korban adalah tak lain dirinya sendiri yang sedang bercerita kepada pembaca.

Cerpen Pasien merupakan cerpen yang mengisahkan penderitaan seorang wanita yang kembali mengalami keterpurukan, kekalahan akibat kejadian traumatis yang menimpanya semasa kanak-kanak. Tokoh wanita yang diperankan oleh Saya adalah korban pemerkosaan. Kini ia bekerja sebagai seorang psikiater, namun tetap saja belum dapat menghilangkan bayang-bayang ketakutannya akibat kejadian buruk tersebut.

Tokoh wanita dalam cerpen ini ialah Saya dan Ia. Di awal cerita, mereka berdua diceritakan seakan-akan adalah dua orang yang berbeda. Saya sebagai seorang psikiater menerima pasien yaitu Ia yang telah menjadi korban pemerkosaan di usianya yang masih belia, yaitu sembilan tahun. Sebagai seorang psikiater, tentunya Saya adalah seorang pendengar yang baik, yang siap membantu menyelesaikan segala permasalahan yang menimpa pasien-pasiennya, tak terkecuali Ia.

“Mungkin saya terlalu ambisius. Saya selalu ingin cepat membantu mereka keluar dari masalahnya. Saya tahu, mereka hanya ingin didengar. Dan saya adalah pendengar yang baik.”

(Pasien, 2006: 26)

“Yang harus saya lakukan hanyalah bersikap menjadi pendengar, dan sekali-sekali, dengan cara tersamar, memberinya wejangan. Ia sama sekali tidak boleh sampai merasa dipojokkan. Ia harus merasa nyaman. Ia harus merasa mendapat dukungan.”

(Pasien, 2006: 27)

Pada akhir cerita, digambarkan bahwa tokoh Saya dan Ia pada dasarnya adalah satu orang. Ia yang seorang korban pemerkosaan tak lain adalah Saya yang ketika dewasa berprofesi sebagai psikiater yang mencoba menyelesaikan persoalan Ia. Saya menceritakan Ia dan segala permasalahannya kepada pembaca. Saya bercerita seakan-akan antara Saya dan Ia sedang duduk berhadap-hadapan, seorang sebagai pasien, dan seorang lagi sebagai dokter yang akan membantu memberi solusi atas permasalahan pelik yang menimpa pasien. Akan tetapi, di akhir cerita kemudian disebutkan bahwa Saya sedang bercermin. Dan bayangan yang ada di hadapannya, yang dianggap sebagai pasien atau tokoh Ia, tak lain adalah dirinya sendiri.

“Tiba-tiba terdengar suara sekretaris lewat intercom memecah hening yang kalut. Pasien saya sudah datang, katanya. Saya menarik nafas lega. Mengambil langkah seribu. Bergegas menuju pintu. Menyingkir dari cermin yang membisu.”

(Pasien, 2006: 31)

Dalam cerpen ini, pengarang mengisahkan seorang wanita sebagai korban pemerkosaan yang harus menanggung derita seumur hidup. Di sini, pengarang menggambarkan perempuan sebagai sosok yang lemah, sekaligus perempuan sebagai sosok yang tangguh. Lemah karena kejadian pemerkosaan telah membekas dalam jiwa dan merusak raganya. Namun kuat sebagai wanita yang sanggup menyongsong kehidupan baru tanpa bayang-bayang kejadian traumatis di masa lalu.

Feminisme yang disuguhkan pengarang dalam cerpen ini adalah penceritaan yang dikemas secara vulgar dan menonjolkan unsur seksualitas dalam balutan feminisme. Melalui cerpen ini dapat menunjukkan sekaligus memberikan wacana baru bahwa wanita (pengarang dan tokoh) merasa berhak atas eksploitasi seksual, libido, hasrat, atau bahkan hanya merupakan bentuk pelampiasan kekesalan, yang selama ini seolah hanya dimiliki oleh pria.

“Saya benci bau rokok di badannya. Saya benci bau alkohol yang ia sendawakan ke depan hidung saya. Saya benci aroma parfum laki-laki berganti-ganti melekat di sekujur tubuhnya. Sepertinya ia tak pernah mandi setiap kali selesai meniduri mereka.”

(Pasien, 2006: 28)

Dari kutipan di atas, tampak unsur feminisme pengarang sekaligus tokoh yang berusaha mengubah pandangan publik tentang paradigma bahwa selama ini hanya pria yang pantas untuk berganti-ganti pasangan. Namun di sini, melalui tokoh Ia, seorang wanita pun sanggup untuk berganti-ganti pasangan tanpa beban. Pantas pula untuk merokok dan turut menikmati tegukan alkohol. Ia menjadi subjek yang mengendalikan laki-laki melalui kebiasaannya yang suka berganti-ganti teman tidur sebagai bentuk pelampiasan amarah. Tampak dari kutipan berikut.

“Ia hanya butuh melampiaskan amarah. Ia hanya berusaha menghadapi ketakutannya pada tiap detail persetubuhan. Masuk ke titik traumanya. Mencoba menikmatinya dengan menindas mereka.”

(Pasien, 2006: 30)

Tokoh oleh pengarang juga digambarkan sebagai wanita yang tangguh. Mampu disejajarkan dengan laki-laki di berbagai forum. Serta kemampuan menulisnya yang tidak biasa dilakukan oleh perempuan pada umumnya. Sehingga pengarang secara tidak langsung menganalogikan bahwa seorang wanita yang pernah rusak baik fisik maupun mentalnya akibat kebiadaban lelaki, pun bisa maju dan berjalan lebih baik.

“Ia selalu terlihat dan dikenal sebagai perempuan kuat. Cara bicaranya yang lugas di depan berbagai forum, goresan kuasnya yang tidak biasa dilakukan oleh perempuan umum, sama sekali tidak mengesankan kalau ia lemah.”

(Pasien, 2006: 25)

“Kemarin, ia datang dan berbicara kepada saya dengan mantap. Ia mendapat tawaran sebagai pembicara sebuah forum bersama dengan si keparat pemerkosanya itu. Dan ia menerimanya. Ia akan menghadapinya. Ia akan berperang dengan cara yang anggun, katanya.”

(Pasien, 2006: 30)

Dari kutipan tersebut tampak bahwa tokoh adalah wanita yang kuat. Ia mau menerima tawaran sebagai pembicara di suatu forum bersama dengan lelaki yang telah memperkosanya. Hal tersebut merupakan sikap yang yang sangat bijaksana. Di mana, seorang musuh dihadapi tanpa kekerasan, melainkan menghadapinya secara dewasa.

Melalui cerpen ini, pengarang ingin mengungkapkan pendapatnya, segala apa yang menjadi keresahannya selama ini, dan juga wanita-wanita pada umumnya. Pengarang melalui tokoh Saya atau Ia mempertanyakan tentang paradigma yang berlaku di masyarakat. Korban pemerkosaan yang umumnya adalah perempuan, akan selamanya menjadi korban dan menjadi bulan-bulanan masyarakat. Korban perkosaan akan menderita seumur hidup melalui luka fisik dan batinnya yang akan selalu membekas. Namun mengapa sang pemerkosa yang notabenenya adalah seseorang yang bermoral bejat, serta pada umumnya pemerkosa adalah seorang laki-laki, dapat menikmati udara segar dengan nyaman (?). Tanpa perasaan bersalah, sang pemerkosa mendapat posisi yang layak di tengah masyarakat. Dari pernyataan berikut, ide feminis pun muncul.

“Kadang saya sulit bisa menerima bagaimana bisa manusia-manusia biadab seperti itu masih bisa menghirup udara segar kebebasan. Mendapat posisi layak di tengah masyarakat. Seperti makhluk yang selama ini menteror perempuan itu, bagaimana bisa ia dengan begitu tenang melenggang sementara korbannya terus menerus menjadi korban? Ia tak hanya satu kali menjadi korban. Namun berkali-kali. Reaksi dari kejadian traumatis itu telah membuatnya jadi bulan-bulanan masyarakat. Ia adalah korban seumur hidup.”

(Pasian, 2006: 30)

E. SIMPULAN

Melalui cerpen berjudul Pasien ini, dapat ditarik simpulan bahwa pengarang yaitu Djenar Maesa Ayu sebagai pengarang yang membangun feminitas yang diperankan oleh tokoh Saya. Pengarang ingin menyajikan suatu analogi bahwa wanita mempunyai hak atas kewanitaannya, untuk mengeksploitasi diri, berahi, dan seksualitasnya sesuai dengan apa yang diinginkannya. Wanita tidak perlu merasa enggan akan superioritas pria, yang sebenarnya wanita pun bisa membaliknya bila wanita mampu menemukan subjektivitas dirinya.

DAFTAR PUSTAKA

Ayu, Djenar Maesa

2006 Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek: Pasien. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kurniawan, Eva Dwi

2006 Seks, Kepasrahan, dan Kematian dalam Kumpulan Cerpen Mahasiswa. Makalah yang disampaikan pada acara bedah cerpen dalam rangka peringatan satu tahun Sanggar Interlute. Surabaya.

Ratna, Nyoman Kutha

2004 Teori, Metode dan Teknik Penelitian Sastra: Dari Strukturalisme Hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Widayati, Hanim

2004 Citra Wanita dalam Kumpulan Cerpen Tak Ada Tempat Bagi Perempuan di Surga. Skripsi Tidak Diterbitkan. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya.

Tidak ada komentar: